Instrumen Investasi Syariah
Written by Yessy Peranginangin   
Monday, 09 February 2009

ImageKondisi perekonomian global yang melemah seharusnya tidak menyurutkan minat KC-ers untuk berinvestasi. Dengan perencanaan keuangan yang baik, investasi reguler tentu tidak menjadi masalah. Saat ini kita akan membahas instrumen investasi berbasis syariah di Indonesia.

Secara singkat kita bisa mendefinisikan investasi syariah sebagai investasi yang sesuai dengan hukum Islam. Sama dengan prinsip ekonomi Islam, investasi diusahakan supaya tidak mengandung unsur maysir, gharar dan riba. Diharapkan dengan menerapkan prinsip investasi yang Islami KC-ers dapat berinvestasi tanpa melanggar prinsip-prinsip agama.
 

Secara umum akan ada dua jenis investasi syariah yang akan dibahas kali ini. Pertama, instrumen investasi perbankan berbasis syariah. Kedua, instrumen investasi pasar modal berbasis syariah.

Jumlah bank yang menyediakan jasa perbankan syariah semakin banyak belakangan ini. Dalam perbankan syariah tidak dikenal prinsip riba. Bahkan investasi dana nasabah pun dibatasi hanya pada bisnis yang halal. Dalam menyalurkan dana, bank syariah menerapkan prinsip wadiah dan mudharabah atau dengan kata lain kemitraan. Bank syariah menerapkan prinsip bagi hasil ketika mereka menghimpun dana masyarakat melalui tabungan dan deposito.

Hasil investasi untuk nasabah diperhitungkan berdasarkan rasio bagi hasil antara bank dengan nasabah, disebut juga nisbah. Bank syariah akan membagi hasil investasi dana nasabah berdasarkan nisbah yang sudah ditetapkan. Hal ini mengakibatkan hasil investasi pada bank syariah tidak dapat ditentukan di depan. Walaupun terdapat ketidakpastian dalam hasil investasi pada bank syariah KC-ers masih dapat berinvestasi dengan tenang karena laporan pengelolaan dan laporan pertanggungjawaban bank syariah disampaikan sama terbukanya dengan yang dilakukan oleh perbankan konvensional.

Sukuk dan reksadana syariah hadir sebagai alternatif investasi syariah di pasar modal. Sukuk adalah instrumen yang memiliki karakteristik seperti obligasi, namun berbeda dengan obligasi, sukuk menerapkan prinsip Islami. Sukuk sendiri dapat diterbitkan oleh pemerintah, yang disebut SBSN (Surat Berharga Syariah Nasional), maupun korporasi. Prinsip bagi hasil juga diterapkan bagi investor sukuk. Baru-baru ini pemerintah menerbitkan Sukuk Ritel Perdana yang pertama (SR-001) dengan imbal hasil sebesar 12% per tahun. Cukup menarik mengingat suku bunga tabungan di bank-bank umumnya turun perlahan-lahan seiring dengan diturunkannya BI Rate oleh Bank Indonesia.

Untuk reksadana syariah, prinsipnya investor mengamanahkan dananya pada manajer investasi yang kemudian akan menginvestasikan dana investor pada emiten. Investor mendapatkan unit penyertaan dari reksadana syariah sebagai bukti penyertaannya. Manajer investasi akan menempatkan dana investor pada emiten yang surat berharganya termasuk efek syariah. Karena sifat hubungannya dua tingkat, dimana manajer investasi mengemban amanah untuk berinvestasi pada emiten yang sesuai dengan prinsip syariah, maka investasi reksadana syariah dikatakan sebagai ikatan mudharabah bertingkat.

Saat ini sudah banyak pilihan untuk berinvestasi dengan menggunakan prinsip syariah. Jadi sudah saatnya bagi KC-ers untuk mulai berinvestasi tanpa harus takut tersandung dengan aturan agama yang tidak memperolehkan pengenaan maysir, gharar dan riba. Semakin cepat dimulai akan semakin besar manfaat investasi yang akan KC-ers dapatkan.
(Copyright © 2008 KeluargaCerdas.com)
 

 

 

Add comment

Security code
Refresh

< Prev   Next >

Polls

Jika Anda mendapat uang Rp.100 jt, apa yang Anda lakukan?
 

Help your friend today, tell them about us

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday77
mod_vvisit_counterYesterday96
mod_vvisit_counterThis week402
mod_vvisit_counterThis month2270
mod_vvisit_counterAll457713