Sedia Payung Sebelum Hujan
Written by Yessy Peranginangin   
Tuesday, 19 August 2008

ImageBelakangan ini ajakan untuk menabung jarang kita dengar. Bahkan kalau kita perhatikan, lebih banyak iklan yang mendorong masyarakat untuk semakin konsumtif hari demi hari.

Dorongan sikap konsumtif ini semakin besar dampaknya di masyarakat karena sistem keuangan modern memfasilitasi masyarakat untuk bisa lebih konsumtif dan menjalankan: “spend today and worry about the payment later”.

Yang menjadi masalah adalah berkurangnya keinginan untuk menabung digantikan dengan kebiasaan “gali lubang tutup lubang” dalam berhutang untuk mengakomodasi kebutuhan konsumsi yang menjadi semakin lazim. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan belanja, selagi uang yang kita belanjakan memang sudah dianggarkan untuk keperluan tersebut. Namun, kebiasaan konsumtif ini akan menimbulkan masalah jika menyebabkan alokasi tabungan berkurang atau bahkan hilang.

Emang penting ya nabung itu? Ya iya lah, penting banget malahan. Dalam perencanaan keuangan, tabungan di pandang sebagai alat dasar sebelum memilih alat-alat berikutnya yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan keuangan.

 

Analogi dari alat dasar sama seperti pondasi dalam membangun rumah. Setelah kebutuhan Dana Darurat dipenuhi oleh tabungan dan instrumen investasi likuid lainnya maka tujuan finansial yang lain dapat mulai dipetakan dan dicarikan alternatif wadahnya.

 

Kunci sukses pemenuhan Dana Darurat melalui tabungan pada prinsipnya sama seperti kunci sukses pemenuhan Dana Pensiun yaitu disiplin dan mulai melakukannya secepat mungkin.

 

Tantangannya? Kebiasaan konsumtif. Kali ini akan ditunjukkan bahwa kebiasaan gali dan tutup lubang dengan menggunakan kartu kredit sebenarnya sangat merugikan.

 

Jika kita memutuskan untuk melakukan pembayaran minimum setiap kali tagihan kartu kredit kita datang sebenarnya tingkat bunga efektif yang kita bayarkan bisa mencapai 20% per tahun bahkan di kasus ekstrim mencapai 40% per tahun dengan sisa pokok yang masih besar.

Padahal tingkat bunga yang bisa kita dapatkan pada instrumen investasi yang sifatnya likuid hanya berkisar antara 7% hingga 10% per tahun. Jadi gunakan kartu kredit jika kita mempunyai alokasi untuk kebutuhan tersebut dan jika uangnya memang ada, artinya kartu kredit hanya untuk “menalangi” pengeluaran kita sementara.

 

Tantangan yang kedua adalah kebiasaan menunda pekerjaan. Seperti telah dibahas dalam artikel “Pensiun bagi Freelancer”, mulai menabung sejak dini akan membantu kita lebih cepat mencapai tujuan Dana Darurat. Disiplin dalam menyisihkan uang untuk ditabung juga penting. Money equation yang telah dibahas dalam artikel “Apakah Cukup Menabung tanpa Berinvestasi?” akan sangat membantu. Disiplin ini akan diberi imbalan karena adanya sistem bunga berbunga (compound interest rate).

 

Sebagai ilustrasi, tabungan Rp 1 juta per bulan selama 3 tahun dengan tingkat pengembalian sebesar 8% per tahun akan menghasilkan total tabungan sebesar Rp 40,5 juta. Jumlah setoran tabungan bulanan ini jauh lebih kecil daripada setoran tabungan yang dilakukan tahunan. Sementara untuk menghasilkan target tabungan Rp40,5 juta tersebut tabungan pertahun yang harus dilakukan adalah sebesar Rp 12,5 juta, berarti tabungan per bulannya ekivalen dengan Rp 1.040.525. Terbukti jika semakin sering kita menabung, walaupun jumlahnya kecil, semakin besar hasil yang kita dapatkan.

 

Jadi pilihannya berpulang kepada kita, kapan akan memulai tabungan untuk pemenuhan Dana Darurat dan seberapa cepat kita ingin memenuhinya. Jangan lupa pepatah lama, “sedia payung sebelum hujan.” (Copyright © 2008 KeluargaCerdas.com)

 

 

Add comment

Security code
Refresh

< Prev   Next >

Help your friend today, tell them about us

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday77
mod_vvisit_counterYesterday96
mod_vvisit_counterThis week402
mod_vvisit_counterThis month2270
mod_vvisit_counterAll457713