Extra Uang Tanpa Extra Masalah
Written by Yessy Peranginangin   
Monday, 07 July 2008

ImageBerat memang keadaan ekonomi Indonesia tahun 2008 ini. Dalam laporan terakhirnya pemerintah menyatakan bahwa perkiraan terburuk inflasi tahun ini adalah 12,5%. Kenaikan drastis angka inflasi ini disinyalir berasal dari naiknya harga pangan dan BBM. Padahal konsumsi makanan dan BBM adalah dua komponen utama pengeluaran dari setiap keluarga.

Kalau situasinya sudah seperti ini, setiap keluarga akan dipaksa untuk berhitung ulang. Setiap pengeluaran dicatat dan ditinjau kembali. Mengapa sisi pengeluaran yang menerima perhatian lebih? Karena bagi banyak keluarga, pengeluaran lebih sulit untuk dikendalikan dari pada pemasukan; pemasukan lebih predictable dibandingkan pengeluaran. 

Jika hasil penghitungan ulang menunjukan bahwa pemasukan masih lebih besar daripada pengeluaran, maka situasi keuangan keluarga masih surplus. Dalam situasi seperti ini berarti masih ada sisa uang bulanan yang dapat ditabung atau diinvestasikan.

 

Namun jika sebaliknya, maka rasa putus asa biasanya akan timbul.  Apalagi, setelah beberapa kali review dilakukan tetap tidak ada perubahan hasil. Jika yang terjadi seperti ini, maka apa yang dapat kita lakukan?

 

Alternatif pertama yang bisa dilakukan adalah dengan mengubah gaya hidup. Pemangkasan pengeluaran yang berkaitan dengan gaya hidup (misalnya: anggaran makan di restoran, anggaran dugem, anggaran untuk nongkrong) harus dilakukan. Namun jika semua anggaran gaya hidup sudah minimal jangan mengubah pengeluaran yang esensial.

Misalnya produk susu anak, jenis vaksinasi untuk anak, sekolah anak, dan lain-lain. Jika pengeluaran bisa turun dan menjadi lebih kecil dari pemasukan dan kita masih bisa menabung atau investasi berarti kita aman. Namun jika pengeluaran masih lebih besar apalagi yang harus kita lakukan?

Alternatif kedua yaitu mencari uang tambahan. Uang tambahan ini dapat didefinisikan sebagai pendapatan ekstra di luar pendapatan yang kita terima secara reguler. Dalam artikel ini sumber uang tambahan ini akan dibagi menjadi dua; dari pekerjaan sampingan atau dari pinjaman. Setiap sumber uang tambahan ini memiliki karakteristik tersendiri.

Pekerjaan sampingan atau populer disebut moonlighting memang memiliki pro dan kontra baik dari sisi karyawan ataupun dari sisi perusahaan yang meng-hire sang karyawan. Hal yang menarik dari moonlighting ini adalah bahwa jika dilakukan secara hati-hati maka inilah alternatif paling aman untuk mendatangkan uang ekstra.

Pekerjaan sampingan ini bisa bermula dari hobi yang kita lakukan di waktu senggang misalnya fotografi, memasak, dan bermain musik. Ketiga hobi ini bisa mendatangkan uang tambahan yang lumayan jika kita bisa memanfaatkannya untuk event pernikahan misalnya.

Beberapa teman juga mulai meng-kapitalisasi-kan hobi mereka di bidang web design dan graphic design. Namun pekerjaan tambahan tidak harus mulai dari hobi, timbulnya kesempatan yang menguntungkan bisa juga menjadi pemicu dari timbulnya pekerjaan tambahan.

Secara keuangan tidak ada resiko dalam melakukan moonlighting, jika diasumsikan pekerjaan tambahan yang dilakukan tidak membutuhkan dana investasi yang besar. Namun jika moonlighting yang kita lakukan investasi yang tidak sedikit sebaiknya perhitungan bisnis perlu dilakukan untuk mengkalkulasi risiko, apalagi jika kita harus menjebol sebagian dana tabungan.

Lain halnya jika ini dilakukan oleh ibu rumah tangga. Tentunya mendapatkan uang ekstra dari waktu luang akan sangat ideal bagi kondisi keuangan keluarga. Betapa tidak, hal ini dapat membantu menambah jumlah tabungan keluarga atau meringankan beban keuangan keluarga. Banyak hal yang dapat dikerjakan dengan memanfaatkan waktu luang untuk mendapatkan ekstra uang seperti misalnya menjual kue/makanan, memberi les untuk anak-anak, menjalani usaha MLM bahkan membuka usaha kecil dirumah atau ditoko yang berhubungan dengan hobi atau kecintaan akan suatu kegiatan.

Selain melalui pekerjaan sampingan, tambahan uang juga bisa diperoleh melalui utang. Di jaman moderen ini utang bisa memiliki beberapa wujud. Dalam kesempatan ini akan dibahas utang dengan agunan (gadai) dan utang tanpa agunan (kredit tanpa agunan, credit card dan pinjaman bank).

Jika mendengar nama Pegadaian maka yang akan timbul dalam benak kita masing-masing harusnya tidak lagi suatu lembaga keuangan yang tujuannya memberikan layanan hanya bagi orang miskin. Sebagai BUMN yang sudah berstatus Perseroan Terbatas, Pegadaian sekarang sudah merambah berbagai segmen pasar. Mulai dari pinjaman sekecil Rp 40.000 s.d. Rp 200 juta, mulai dari pinjaman konsumsi sampai pinjaman modal kerja, mulai dari pegadaian konvensional sampai pegadaian syariah.

Prinsip dasar gadai adalah memberikan kredit sesuai dengan nilai taksiran barang yang kita gadaikan. Dana yang kita dapatkan tidak datang secara gratis, dalam waktu yang ditentukan kita harus bisa membayar kembali utang yang kita dapatkan.

Semakin cepat kita membayar semakin kecil biaya sewa modal yang akan dibebankan. Jika sampai pada batas waktu kita tidak bisa mengembalikan uang pinjaman, maka barang yang diagunkan akan di lelang. Jika hasil lelang lebih besar dari nilai gadai setelah dikurangi biaya lelang dan biaya sewa modal maka sisa uang tersebut menjadi milik kita.

Jenis utang yang kedua adalah utang tanpa agunan. Bentuk dari utang jenis ini adalah kredit tanpa agunan, credit card dan pinjaman konsumsi. Secara teoretis hal ini sulit untuk dibayangkan. Bagaimana sebuah lembaga keuangan mau memberikan pinjaman pada seseorang dengan mengabaikan 1C (collateral) dari 5C yang mendasari keputusan memberikan kredit? Jawaban yang paling masuk akal adalah lembaga keuangan ini membebankan suku bunga premium untuk mengakomodasi faktor risiko yang tidak diukurnya.

Ternyata memang benar pepatah dalam dunia keuangan, there’s no free lunch! Intinya, hal yang harus diperhatikan jika kita mau meminjam uang untuk menutupi defisit keuangan keluarga adalah kewajiban yang akan timbul dari pinjaman uang tersebut. Konsekuensi nyata dari meminjam uang adalah kita harus mencicil pokok dan bunga dan untuk menservis kewajiban ini dibutuhkan dana likuid secara reguler. Tambahan kewajiban ini jika tidak dikelola secara seksama akan membuat defisit anggaran keluarga semakin parah.

Pada prinsipnya defisit anggaran keluarga harus disikapi dengan bijaksana. Keputusan untuk gali dan tutup lubang bukanlah solusi yang ideal. Jadi, mulailah merencanakan pengeluaran dengan lebih bijaksana dan pastikan uang ekstra yang kita dapatkan tidak mendatangkan masalah ekstra.
(Copyright © 2008 KeluargaCerdas.com).

 

Add comment

Security code
Refresh

< Prev

Help your friend today, tell them about us

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday77
mod_vvisit_counterYesterday96
mod_vvisit_counterThis week402
mod_vvisit_counterThis month2270
mod_vvisit_counterAll457713