Apakah Cukup Menabung Tanpa Berinvestasi ?
Written by Manuel Pakpahan   
Tuesday, 03 June 2008

Image"Nabung di bank tekor nih, bunganya rendah. Belum lagi ngitung soal inflasi, tambah miskin aja gue! Gimana bisa punya uang buat masa depan?" seru seorang teman mengawali percakapan kami. Alih-alih beruntung dengan menempatkan dana di TABUNGAN yang didapat malah buntung. Singkat kata, kawan ini lalu minta nasihat bagaimana supaya daya belinya tidak berkurang.

Saya ajak dia berhitung sejenak. Pak Man dan Bu Lan (bukan nama sebenarnya) berencana melakukan wisata rohani ke Timur Tengah 14 tahun mendatang,

Asumsi Dana yang dibutuhkan saat ini: Rp. 60 juta
Target waktu dana wisata yang akan dipakai: Th. 2022 (14 tahun)
Target dana wisata sebesar: Rp. 425 juta
Asumsi inflasi: 15%/tahun
Imbal hasil bersih tabungan: 3%/tahun
Maka dana yang harus ditabung dari sekarang sebesar : Rp. 2 juta/bulan.


Pusing? Don't be! Ada alternatif yang dapat memberikan imbal hasil lebih (dengan risiko yang terukur tentunya) bernama INVESTASI. Mari kita berhitung ulang.

Asumsi dana yang dibutuhkan saat ini: Rp. 60 juta.
Target waktu dana wisata yang akan dipakai: Th. 2022 (14 tahun)
Target dana wisata sebesar: Rp. 425 Juta
Asumsi inflasi: 15%/tahun
Imbal hasil bersih investasi/return: 25%/tahun
Maka dana yang harus ditabung dari sekarang hanya sebesar: Rp. 286 ribu/bulan saja !!

Lihat betapa besar perbedaannya! Inilah contoh perhitungan yang membuktikan kalau menabung saja tidak sanggup memerangi ancaman inflasi. Sekarang bayangkan seandainya dana yang ditabung besarnya sama yaitu Rp. 2 juta/bulan dan imbal hasil investasi tersebut 25% atau bahkan lebih dari 25% per tahun. Tentunya teman saya tidak perlu menunggu 14 tahun untuk dapat mewujudkan wisata rohaninya ! Inilah yang dinamakan the power of compounding using bigger rates.

Money equation sebelumnya:
PENDAPATAN BERSIH - TABUNGAN (DANA DARURAT) – ASURANSI = PENGELUARAN
sekarang perlu di-upgrade menjadi:
PENDAPATAN BERSIH – TABUNGAN – ASURANSI - INVESTASI = PENGELUARAN

Berapapun pendapatan bersihmu, sisihkan dulu untuk tabungan (target dana darurat berkisar antara 4-12 kali pengeluaran bulanan dan setoran tabungan bulanan untuk mencapai target ini kira-kira 5-10% dari pendapatan kotor), asuransi (kesehatan dan kecelakaan/jiwa dengan setoran premi bulanan sekitar 4-8% dari pendapatan kotor), dan investasi (setoran investasi bulanan berkisar 10%-30% dari pendapatan kotor), baru kemudian dialokasikan ke pos-pos pengeluaran yang lain.

Tabungan tetap penting sebagai account yang menampung emergency fund kita, sementara proteksi terhadap diri sendiri dan anggota keluarga semakin disadari sehingga membeli polis asuransi disarankan. Dan akhirnya investasi diperlukan untuk mempertahankan daya beli dan mengembangkan kekayaan kita. Inilah tantangan kita sekarang sebagai bangsa, yakni bagaimana menciptakan masyarakat Indonesia yang tidak saja ‘melek’ tabungan dan asuransi, tapi juga sadar berinvestasi.

Kemudian pertanyaan berikutnya muncul, apa saja alternatif investasi yang menawarkan imbal hasil diatas tingkat bunga tabungan? Secara garis besar investasi dikelompokan sebagai berikut:

  1. Investasi aset riil (bisnis)
    Bisnis warung makan, indekos, jasa pangkas rambut adalah contoh bisnis untuk membangun aset riil.
  2. Investasi aset finansial (unit penyertaan investasi atau efek)
    Membeli reksadana, obligasi ritel negara atau korporasi, dan saham adalah sejumlah contoh investasi surat berharga.

Untuk memulai bisnis sendiri dibutuhkan tenaga dan waktu khusus serta dana yang tidak sedikit agar dapat berjalan dengan baik. Karenanya, reksa dana hadir sebagai alternatif yang cepat dan mudah untuk memulai berinvestasi. Selain dapat dimulai dengan jumlah dana relatif rendah, juga ditangani oleh orang-orang yang ahli dibidangnya. Reksadana adalah wadah bagi sekumpulan investor untuk berinvestasi dalam instrumen-instrumen finansial dengan bantuan Manajer Investasi.

Investasi berdasarkan horizon terbagi atas:

  1. Jangka pendek (1-5 tahun),
    disarankan masuk Reksa Dana Pasar Uang atau Reksa Dana Obligasi (tipe Konservatif atau Terproteksi).
  2. Jangka menengah (5-10 tahun),
    disarankan masuk Reksa Dana Obligasi (tipe agresif) atau Reksa Dana Campuran (tipe konservatif).
  3. Jangka panjang (diatas 10 tahun),
    disarankan masuk Reksa Dana Campuran (tipe agresif) dan Reksa Dana Saham.

Jika nelayan di Malaysia atau supir taksi di Hongkong sudah menjadi investor reksa dana, mengapa orang Indonesia tidak bisa? Kemandirian finansial jelas jadi impian setiap insan. Seseorang dikatakan mandiri secara finansial disaat ia mampu mencapai tujuan-tujuan finansialnya seperti: ada tabungan untuk dana darurat, punya proteksi atas risiko, membeli rumah, memiliki kendaraan, dana pendidikan anak, dana liburan, serta dana pensiun.

Dan juga manakala pendapatan pasif sama dengan atau lebih besar dari belanja rutin, yakni saat return atas cash asset sama dengan atau lebih besar daripada pengeluaran bulanan. Jika pertanyaannya perlukah kita berinvestasi, Anda sudah tahu jawabannya sekarang. Ibarat kesehatan yang harus dibina sejak dini, demikian halnya investasi perlu dimulai sesegera mungkin.
(Copyright © 2008 keluargacerdas.com)

 

Add comment

Security code
Refresh

< Prev

Help your friend today, tell them about us

Visitors

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday77
mod_vvisit_counterYesterday96
mod_vvisit_counterThis week402
mod_vvisit_counterThis month2270
mod_vvisit_counterAll457713